Rabu, 15 Februari 2012

PEKERJAAN SEDEHANA BANYAK MANFAAT : Mengelola Sampah

Dulu kita sering mendengar lagu jawa " ... ee mantene teko, ee gelaro kloso, ee klasane bedah, ee tambal juwadah, ee juwadahe mambu, ee pakakne asu, ee asune mati, ee buang ning kali... "lagu ini mengajarkan pada kita semua bahwa kalau ada anjing mati cukup kita buang di kali, dan akhirnya tidak hanya anjing yang dibuang di kali namun sampah apapun ikut dibuang di kali. Pabrik-pabrik membuang limbah di kali, masyarakat membuang sampah runah tangga di kali. Atau memang lagu ini belum selesai ... ee kaline banjir... ee kaline tercemar.

Pengelolaan sampah dari sumbernya pada dasarnya adalah sebuah kesadaran dan membutuhkan kebiasaan, proyek pengelolaan sampah berbasis masyarakat sudah menghabiskan dana yang tidak sedikit, namun hanya sebagian saja yang masih menjalankannya dan mayoritas berjalan pada saat diresmikan dan atau saat dilakukan pengambilan gambar oleh stasiun TV atau pas ada kunjungan saja. Berbagai peralatan dan mesin-mesin untuk proses pengolahan sampah menjadi kompos maupun biomas dibagi-bagikan per RT/ RW, komposer dengan berbagai model juga telah didistribusikan ke rumah tangga, pelatihan-pelatihan terus digalakkan.. namun hasilnya masih jauh dari harapan.

Di sana-sini Bank Sampah sudah mulai berdiri, anak-anak sekolah juga ikut serta meramaikan bank sampah, apapun yang terjadi ini adalah sudah dapat membantu banyak pengurangan sampah an organik. para pemulung juga tetap bekerja untuk sesuap nasi yang sekaligus membantu mengurangi gunungan sampah, namun akan lebih optimal lagi kalau sebagian besar masyarakat memahami bahwa sampah yang selama ini kita anggap masalah harus ikut menyelesaikan masalah tersebut, bukan membuang maupun menimbun masalah ( baca sampah), karena yang namanya masalah sedikit saja sudah masalah dan "sulit" diatasi, apalagi jika di buang dan dikumpulkan di salah satu tempat (TPA), maka akan menimbulkan masalah besar, seperti longsor, pencemaran udara dan pencemaran air.

Membiasakan Memisah Sampah

Kebiasaan memisahkan sampah sesuai dengan jenisnya harus dimulai sekarang, setiap ada bungkus plastik kita kumpulkan sesama plastik yang sejenis apakah itu tas plastik kresek yang akan digunakan lagi atau tidak, jika tidak dapat dijadikan satu dengan plastik putih habis bungkus rempah-rempah dipasar. Begitu juga plastik bungkus susu, sabun dan makanan pabrikan bisa kita kumpulkan tersendiri. Plastik jenis pertama bisa kita jual, atau sodaqohkan pada pemulung, sedangkan plastik jenis kedua bisa dioptimalkan untuk kerajinan ataupun di sodaqokah ke pihak yang membutuhkan. begitu juga kertas-kertas akan kita pisah dengan kartos, botol plastik dikumpulkan sejenis, yang dari logam dan kacapun bisa dikumpulkan sejenis juga.

Persoalannya seberapa banyak sampah tersebut harus dikumpulkan, hal ini tidak ada standarnya, karena kalau kita kumpulkan dengan maksud kita jual, pasti harus nunggu sampai banyak, namun kalau kita setor ke Bank Sampah tidak harus menunggu berkilo-kilo, apalagi kalau niatan kita akan kita berikan pada pemulung ataupun kita sodaqohkan ke Remaja Masjid (sudah ada beberapa Remaja Masjid yang mengelola sodaqoh UWUH / sampah ).

Lantas bagaimana sampah basah yang jumlahnya justru sangat banyak jika dibanding dengan sampah an organi.

Pembuatan Kompos Sederhana

Prinsip dasar pengelolaan sampah secara filosofi, adalah mengembalikan pada tempatnya, maka sampah-sampah yang berasal dari tanah, seperti dedaunan yang dihasilkan dari dapur maupun kebun, seharusnya dikelola menjadi kompos.

Salah satu cara memproses sampah menjadi kompos secara sederhana dan tidak berbau adalah dengan menggunakan proses komposing, yakni sampah yang ada dicampur dengan kompos yang sudah jadi. contoh yang mudah dan dapat dilakukan oleh rumah tangga dengan lahan sesempit apapun adalah dengan menggunakan bekas tempat cat 25 kg, yang dilubangi samping-sampingnya dengan ukuran jari-jari dengan jumlah 8 - 12 lubang. paling bawah setebal 5 cm kita taruh kompos yang sudah jadi, di atasnya kita tempatkan kompos dapur yang akan dikelola sampai setebal 10-15 cm (semakin tipis semakin bagus), setelah kita kita lapisi lagi dengan kompos yang sudah jadi terus hal ini dapat kita lakukan sampai penuh. dan paling atas adalah kompos. setelah penuh kita ganti tempat yang lain, dan kita lakukan hal yang sama. untuk mempercepat proses, setelah dua minggu bisa kita balik ke tempat yang lebih besar dan kita biarkan dua tiga minggu lagi, maka sampah tersebut sudah menjadi kompos setengah jadi. artinya kompos setengah jadi ini sudah dapat kita gunakan sebagai bahan komposing sampah. Namun untuk kebutuhan pupuk tanaman dan sayur-sayuran kompos yang kita kelola tersebut masih membutuhkan waktu sampai dengan 2 minggu lagi. atau dengan sederhana proses komposing sampah rumah tangga membutuhkan waktu 1,5 sampai 2 bulan.  Perlu diperhatikan bahwa jika kita mengolah sampah dimaksud ada daun pisang atau kertas bekas pembungkus ikan pindang / presto, maka usahakan di potong-potong lebih kecil agar cepat hancur jadi kompos, begitu juga kalau ada kulit terus lebih baik kita hancurkan dulu.
 

Selamat mencoba, ingat bumi kita hanya satu, hidup kita hanya sekali.

Disarikan dari pengalaman pribadi yang sudah dijalanka lebih dari 10 tahun.

Salam,

Cak Mus





  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar